Namaku cinta

Diposting oleh Fauzan MIftakhudin on Jumat, 02 Januari 2015



Kenalkan, namaku cinta. Aku berasal dari tempat  yang jauh diujung sana. Penuh keindahan yang menyejukkan hati. Dengan kenikmatan yang tak akan berakhir bagi orang yang mau menanti. Jika ada kalimat sederhana yang kusapaikan agar kita bisa berkunjung kesana, akan kusebut itu kesabaran atas keta’atan.
Karena disana hanya ada orang-orang disucikan dan menyucikan diri. Membeesihkan diri atas segala tipu daya percintaan. Terhindar dari segala bentuk kesesatan dan kehinaan yang berbalutkan cinta.
Karena dilahirkan dengan penuh kasih sayang. Aku dtakdirkan bukan untuk menyakiti atau ingin menang sendiri. Ketekunan akan pemberian kasih sayang yang mendidikku hingga dewasa ini.
Kedamaian yang kurasa ketika berkumpul dengan keluarga disana. Sungguh mengasikkan. Tidak ada rasa cmas dan ketakutan dikampung halamanku. Hanya kesenangan yang belimpah yang ku dapat.
Pohon ridang yang menyejukkan jiwa, menentramkan hari. Disaat panas mulai menyengat. Gemlicir suara aliran suangai, menghiasi telinga dkala sempat kudengar kata-kat yang tak kusuka. Sunggu indah kawan, karena aku dilahir tanpa didustakan, kecuali orang tak tak paham kenapa aku dilahirkan.
Hey kawan? yang menganggungkan cinta, menyebut nama ku disetiap dusta-dustamu. Melemparkan semua kepada manusia yang tak memilik salah dengan cinta. Tenggelam dengan cinta yang palsu, bukan diriku yang ada untuk saling memadu kasih.
Aku tak dilahirkan untuk meneteskan air mata. Meski, terkadang aku ditempatkan diatas linangan air mata yang penuh bahagia. Aku diciptakan bukan untuk menyakiti, walaupun terdakang menyalah artikan tentang aku.
Kini aku harus berdiam diri, ditempat yang sepi. Didalam diri manusia yang terkadang tak mengerti mengapa aku ada. Hingga mereka menafikkan aku ada untuk sebuah kebencian. Padahal aku ada untuk memakukan dua manusia yang memadukan kasih dijalan yang kusukai.
Aku ingin pulang, rasanya diri ini sudah banyak dihinakan. Mereka mengatasnamakan aku untuk menghancurkan orang lain. Aku juga memiliki rasa, sakit sering kurasakan. Ketika mereka menyebut namaku diluar pernikahan.
Padahal, aku ada untuk menyatukan. Tapi terkandan kesenangan manusia yang tak kusuka harus kulalui. Itulah jalinan kaum muda yang tak mengenalku, namun kejamnya merak menyebut nama ku dihadapan manusia yang lain.
Ya, mereka menyebutku untuk menyelami dua samudra hati. Tanpa ada kepastian yang sejati. Sahabatku yang lain sudah bahagia dengan mengikat dua manusia dengan pernikahan. Tapi aku hanya bisa didustakan oleh para kalangan muda, untuk mencari kenikmatan duniawi.
Aku ingin pulang, aku tak tahan seperti ini. Rasa amarah telah memuncak dikepala ini, karena telah menginjak-injak harga diriku. Harga ini yang sudah tak berarti, hingga aku dijajakan dengan mudah kemana saja mereka mau. Tanpa ada ikatakan yang ku mau.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar