Kenalkan, namaku cinta. Aku berasal dari tempat yang jauh diujung sana. Penuh keindahan yang menyejukkan hati. Dengan kenikmatan yang tak akan berakhir bagi orang yang mau menanti. Jika ada kalimat sederhana yang kusapaikan agar kita bisa berkunjung kesana, akan kusebut itu kesabaran atas keta’atan.
Karena
disana hanya ada orang-orang disucikan dan menyucikan diri. Membeesihkan diri
atas segala tipu daya percintaan. Terhindar dari segala bentuk kesesatan dan
kehinaan yang berbalutkan cinta.
Karena
dilahirkan dengan penuh kasih sayang. Aku dtakdirkan bukan untuk menyakiti atau
ingin menang sendiri. Ketekunan akan pemberian kasih sayang yang mendidikku
hingga dewasa ini.
Kedamaian
yang kurasa ketika berkumpul dengan keluarga disana. Sungguh mengasikkan. Tidak
ada rasa cmas dan ketakutan dikampung halamanku. Hanya kesenangan yang belimpah
yang ku dapat.
Pohon
ridang yang menyejukkan jiwa, menentramkan hari. Disaat panas mulai menyengat.
Gemlicir suara aliran suangai, menghiasi telinga dkala sempat kudengar kata-kat
yang tak kusuka. Sunggu indah kawan, karena aku dilahir tanpa didustakan,
kecuali orang tak tak paham kenapa aku dilahirkan.
Hey kawan?
yang menganggungkan cinta, menyebut nama ku disetiap dusta-dustamu. Melemparkan
semua kepada manusia yang tak memilik salah dengan cinta. Tenggelam dengan
cinta yang palsu, bukan diriku yang ada untuk saling memadu kasih.
Aku tak
dilahirkan untuk meneteskan air mata. Meski, terkadang aku ditempatkan diatas
linangan air mata yang penuh bahagia. Aku diciptakan bukan untuk menyakiti,
walaupun terdakang menyalah artikan tentang aku.
Kini aku
harus berdiam diri, ditempat yang sepi. Didalam diri manusia yang terkadang tak
mengerti mengapa aku ada. Hingga mereka menafikkan aku ada untuk sebuah
kebencian. Padahal aku ada untuk memakukan dua manusia yang memadukan kasih
dijalan yang kusukai.
Aku ingin
pulang, rasanya diri ini sudah banyak dihinakan. Mereka mengatasnamakan aku
untuk menghancurkan orang lain. Aku juga memiliki rasa, sakit sering kurasakan.
Ketika mereka menyebut namaku diluar pernikahan.
Padahal,
aku ada untuk menyatukan. Tapi terkandan kesenangan manusia yang tak kusuka
harus kulalui. Itulah jalinan kaum muda yang tak mengenalku, namun kejamnya
merak menyebut nama ku dihadapan manusia yang lain.
Ya, mereka
menyebutku untuk menyelami dua samudra hati. Tanpa ada kepastian yang sejati.
Sahabatku yang lain sudah bahagia dengan mengikat dua manusia dengan
pernikahan. Tapi aku hanya bisa didustakan oleh para kalangan muda, untuk
mencari kenikmatan duniawi.
Aku ingin
pulang, aku tak tahan seperti ini. Rasa amarah telah memuncak dikepala ini,
karena telah menginjak-injak harga diriku. Harga ini yang sudah tak berarti,
hingga aku dijajakan dengan mudah kemana saja mereka mau. Tanpa ada ikatakan
yang ku mau.
